MEMBANGUN MASJID DAN PERMULAAN ADZAN
Pada tahun
pertama hijrah, ada beberapa hal yang dilakukan oleh Rasulullah diantaranya
yaitu membangun masjid yang mulia. Masjid yang dibangun bernama masjid Quba. Rasul
ikut serta bekerja dalam pembangunan masjid tersebut. Hal ini dilakukan untuk memberi
contoh dan memberi semangat kepada umat Islam dalam bekerja.
Pada tahun
yang sama, dimulailah adanya aturan adzan. Untuk mengingatkan orang-orang yang
lupa dan untuk mengumpulkan jamaah. Suatu ketika Rasulullah bermusyawarah dengan
para sahabat untuk menentukan tanda apa yang akan digunakan untuk mengingatkan
waktu salat. Di antara para sahabat yang mengikuti musywarah, ada yang berpendapat
agar menaikkan bendera sebagai tanda waktu salat telah tiba. Adapula yang
mengusulkan agar menyalakan api di dataran tinggi, membunyikan terompet
sebagaimana orang Yahudi, atau memberi tanda dengan membunyikan bel sebagaimana
orang-orang Nasrani. Usulan yang terakhir yaitu dengan melakukan panggilan
bahwa waktu salat telah tiba. Di antara beberapa usulan tersebut, Rasulullah
menyetujui usulan yang terakhir yaitu dengan panggilan.
Ketika Abdullah
bin Zaid dalam kondisi di antara tidur dan bangun, ia didatangi oleh seseorang
yang mengajarkan adzan kepadanya. Setelah bangun, ia memberitahu Rasulullah
perihal mimpinya. Tidak hanya Abdullan bin Zaid, Umar bin Khattab juga bermimpi
demikian dan memberitahu Rasulullah bahwa ia juga bermimpi yang sama dengan
Abdullah bin Zaid.Kemudian Rasulullah meminta Abdullah bin Zaid untuk
mengajarkan lafal adzan kepada Bilal.
Bilal
menambahkan kalimat “as solatu khoirun minan naum” dalam adzan subuh yang
dibaca sebanyak 2 kali. Rasulullah menyetujui apa yang dilakukan oleh Bilal. Berkaitan
dengan adzan pula, Rasulullah memerintahkan untuk melakukan adzan sebanyak 2
kali pada waktu fajar. Adzan pertama untuk membangunkan orang-orang yang lupa
agar bangun untuk sahur; yang kedua adalah adzan untuk salat Subuh.
Berikutnya
adalah adzan Jum’at. Pada masa Rasulullah hingga khalifah Abu Bakar dan Umar,
adzan itu hanya dilakukan satu kali yaitu ketika imam duduk di atas mimbar dan
adzan tersebut dilakukan di pintu masjid. Pada masa khalifah Utsman, jumlah
adzan menjadi 2. Hal ini dikarenakan semakin bertambahnya jamaah sehingga
diperlukan dua kali adzan agar jamaah yang berada di luar dapat mendengarnya
dan tidak ketinggalan. Wallahu a’lam
Komentar
Posting Komentar